Sobat, mungkin anda sering mendengar tuduhan atau ucapan semacam di atas. Terlebih lagi bila anda adalah lelaki berjenggot, bercelana cingkrang atau wanita muslimah yang menutup rapat aurat anda. Terlebih lagi bila anda senantiasa meminta dalil dalam setiap urusan agama. Nah, pada saat menghadapi tuduhan semacam itu, apakah yang anda ucapkan atau lakukan?
Anda berang?
Anda buru buru menepis dan berkata : “aah tidak, saya tidak merasa paling benar!”
Sobat! Coba camkan jawaban anda, bila ternyata anda tidak merasa paling benar lalu mengapa anda mengamalkan bahkan mengajarkan pilihan anda kepada yang lain? Dan mengapa anda enggan menggantinya dengan pilihan lain?
Sebagai seorang muslim, sewajarnya untuk senantiasa memilih yang terbenar dan terbaik. Sangat nista bila anda memilih yang tersalah, atau paling kurang pilihan yang salah, terlebih dalam urusan agama. Untuk urusan pasangan hidup saja saya yakin anda berusaha memilih yang the best dari yang ada atau dari yang bisa anda dapatkan. Dengan demikian wajar bila anda setia kepada pilihan anda. Alangkah meruginya bila dalam urusan pasangan hidup anda bersikap “asal dapat” apalagi memilih yang buruk, terlebih lagi bila pilihan yang terburuk
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/21278-menanggapi-ucapan-anda-sok...
_________________________________
_________________________________
MERASA PALING BENAR_
Jangan merasa paling benar sendiri.
sebuah ucapan yang sering terdengar untuk berkilah ketika ditegur atau diingatkan.
Padahal merasa benar adalah fitrah manusia. karena tidak ada di dunia ini yang merasa paling sesat sendiri.
Lihatlah Fir'aun, ia berkata:
"Aku tidaklah memandang kecuali yang aku pandang baik, dan aku hanyalah membimbing kalian kepada jalan kebenaran."
(
Bila ada yang berkata kepadamu: "Jangan merasa paling benar sendiri."
tanyalah ia: "Anda berkata demikian apakah merasa benar?" tentu ya..
Merasa paling benar dalam perkara yang telah jelas dalilnya adalah perkara yang diperintahkan. Sedangkan dalam perkara yang bersifat ijtihad dan tidak ada nash yang gamblang, maka kita hanya memilih yang kita pandang kuat tanpa menyesatkan yang lainnya.
Yang salah adalah orang yang merasa paling benar namun tidak memiliki hujjah dan dalil yang kuat.
Banyak orang ketika anda tegur kesalahan yang ia lakukan berkilah dengan mengatakan sudahlah, jangan merasa benar sendiri ! sehingga menjadi pertanyaan dalam benak kita, apakah perkataan tersebut berasal dari dalil ataukah hanya sebatas kilah yang tak beralasan yang menunjukkan sebuah kebingungan ?
Tentunya hal itu harus kita cermati secara seksama dengan hati yang dingin apakah ada ayat atau hadist atau pendapat para ulama yang mengatakan dengan perkataan tersebut.
Coba lihat Qs. An-nissa : 59 :
ﺇﺫﺍ ﻛﻨﺖ ﺁﺭﺍﺀ ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ ﺣﻮﻝ ﻗﻀﻴﺔ ﻣﺎ ، ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻌﺎﺩﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺗﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ … “
“jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan rasul (hadist/sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian…”
(
Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa setiap perselisihan wajib dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah tidak MENGATAKAN; jika kamu BERSELISIH janganlah kamu merasa BENAR SENDIRI, atau KEMBALI pada PENDAPAT masing-masing. Akan tetapi Allah menyuruh untuk mengembalikannya kepada Quran dan sunnah, ini menunjukkan bahwa yang benar hanyalah yang berdasarkan al-quran dan sunnah.
Para sahabat senantiasa menyalahkan orang-orang yang mereka pandang salah dan tidak pernah di antara mereka yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri ! seperti dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh ad darimi dalam sunannya bahwa Ibnu Mas`ud mendatangi suatu kaum yang berdzikir berjamaah dengan memakai kerikir dan berkata : "celaka kamu hai umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaan kalian… apakah kamu merasa di atas millah yang lebih baik dari millah Muhammad ataukah kamu hendak membuka pintu kesesatan?! kemudian mereka berkata : "Sesungguhnya kami menginginkan kebaikan”. Beliau berkata : berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi ia tidak mendapatkannya (karena caranya salah). Dalam kisah tersebut tidak dikatakan : jangan kamu merasa benar sendiri.
Demikian pula para tabiin.
disebutkan dalam kisah yang diriwayatkanoleh al-baihaqi dalam sunannya(2/466), Abdurrozaq(3/52), ad-darimi dan ibnu Nashr bahwa sa`id bin Musayyid melihat seorang laki-laki sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rokaat, lalu sa`id melarangnya, kemudian orang itu berkata : wahai Abu Muhammad, apakah Allahakan mengadzab saya gara-gara sholat? Beliau menjawab : "tidak, tapi Allah akan mengadzabmu karena kamu menyalahi sunnah”. Tidak pula dikatakan padanya : jangan merasa benar sendiri.
Demikian pula tabi`ut tabiin dan para ulama setelahnya. Senantiasa mereka membantah pendapat yang mereka pandang lemah atau salah tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri.
Disebutkan dalam kisah bahwa imam Asy-Syafii mendebat imam Ahmad dalam masalah hukum orang meninggalkan shalat, di mana Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat kafir murtad dai agama Islam, sedangkan imam Asy-Syafii tidak mengkafirkannya, tapi imam Asy-syafii atau imam Ahmad tidak pernah mengatakan : jangan merasa benar sendiri! Tapi yang dikatakan imam Asy-Syafii adalah : "tidaklah aku berdialog dengan seorang pun kecuali aku berkata : "Ya Allah, alirkanlah kebenaran pada lisan dan hatinya, jika kebenaran itu bersamaku, ia mau mengikutiku dan kebenaran itu ada padanya, aku akan mengikutinya.
(
Mereka juga menulis kitab-kitab bantahan terhadap bid`ah dan kesesatan. imam Ahmad menulis kitab Arrodd `alal jahmiyyah(bantahan terhadap jahmiyyah), Abu Dawud punya kitab Arrodd `alal qodariyyah(bantahan terhadap qodariyyah), Ad-darimi menulis kitab Roddu ustman ad darimi `ala Bisyir Al-Marisi adl Dlooll (bantahan ustman ad-darimi terhadap Bisyir Al-Marisi yang sesat), dan banyak lagi kitab-kitab bantahan lainnya. Tidak ada satupun di antara mereka yang berkata : jangan merasa benar sendiri. Cobalah anda renungkan perkataan syaikhul islam Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Harowi : "pedang dihadapkan kepadaku sebanyak lima kali bukan untuk menyuruhku agar keluar dari keyakinanku, akan tetapi dikatakan kepadaku : diamlah dari orang yang menyelisihimu!! Aku tetap menjawab : aku tidak akan pernah diam….
(
Merasa benar adalah fitrah manusia, buktinya jika engkau bertanya kepada orang yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri” apakah anda merasa benar dengan perkataan tersebut? Tentu ia berkata : ya. Dia sendiri merasa benar sendiri dengan pendapat tersebut lalu ia melarang orang lain merasa benar sendiri, jelas ini kontradiktif yang fatal.
Di dunia ini, tidak ada orang yang merasa paling sesat. Fir'aun saja berasa dirinya benar. Baca saja surat ghafir ayat 29.
Jadi merasa benar dengan pendapat yang jelas dalilnya lebih-lebih bila didukung oleh `ijma (kesepakatan) ulama adalah sebuah keharusan sedangkan merasa benar dengan kesesatan adalah kesalahan. Adapun dalam perkara ijtihadi yang tidak ada dalilnya yang gamblang maka kita ikuti yang paling kuat dalilnya tanpa menyesatkan yang lainnya.
Wallahu a`lam.
0 komentar:
Posting Komentar