Layanan Haji Furoda Langsung Berangkat dari PT. Samira Ali Wisata

 

Layanan Haji Furoda Langsung Berangkat dari PT. Samira Ali Wisata

Lowongan Kerja Sales Online

 

Lowongan Kerja Sales Online
Lowongan Kerja Sales Online

Kisah Sahabat Nabi Ditolong Malaikat Penghuni Langit Keempat

 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar pernah ditolong oleh malaikat penghuni langit keempat. Sebelumnya dia akan dibunuh oleh perampok, kemudian ia meminta pertolongan kepada Allah SWT..


Dikutip dari buku Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Abid Dun-ya menyebutkan dalam 'al-Mujabin fid Dua' dari al-Hasan, dari (Anas bin Malik), ia berkata, "Ada salah seorang Sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang diberi kunyah atau julukan Abu Mi'laq.

Dia dikenal sebagai orang yang rajin beribadah dan wara, sekaligus sebagai pedagang yang berniaga dengan harta pribadinya, maupun harta orang lain di berbagai tempat. Suatu kali ia bertemu seorang perampok bersenjata di tengah perjalanannya.

"Letakkan barang-barang yang kamu bawa! Sungguh aku akan membunuhmu! kata perampok.

"Mengapa Anda menginginkan darahku? Urusanmu hanyalah hartaku," jawab Abu Mi’laq.

"Aku menginginkan harta dan darahmu!" gertak perampok itu.

"Jika Anda tetap ingin membunuhku, maka izinkanlah aku shalat empat rakaat terlebih dahulu," kata Abu Mi'laq.

"Shalatlah sesuai dengan keinginanmu," seru perampok tadi.

Abu Mi'laq lalu berwudhu dan shalat empat rakaat. Di antara doa yang ia panjatkan di akhir sujud adalah: "Wahai Yang Maha Pengasih, Wahai Pemilik Arsy yang Mulia, Wahai Yang Mahakuasa untuk berbuat apa yang Dia kehendaki, aku memohon kepada-Mu dengan keperkasaan-Mu yang tidak dapat dijangkau, dengan kerajaan-Mu yang tidak mungkin diraih, dengan cahaya-Mu yang memenuhi tiap sudut Arsy-Mu, lindungilah hamba dari kejahatan perampok ini. Wahai Yang Maha Penolong, tolong aku. Wahai Yang Maha Penolong, tolong aku.’

Ia mengulanginya sebanyak tiga kali. Tiba-tiba, datanglah seorang penunggang kuda dengan membawa sebilah tombak pendek di tangannya. Ia meletakkan tombak tersebut di antara kedua telinga kudanya. Dan saat perampok tadi melihatnya, ternyata penunggang kuda itu melaju ke arahnya lalu menikam dan membunuhnya. Lalu, ia menghampiri Abu Mi'laq seraya menyapa: "Berdirilah".

"Ayah ibuku sebagai tebusanmu, siapakah Anda? Hari ini Allah telah menolongku dengan perantaramu" tanya Abu Mi'laq.

Penunggang kuda memberitahu: "Aku adalah Malaikat penghuni langit keempat. Ketika engkau mengucapkan doa yang pertama, aku mendengar suara gemerincing di pintu-pintu langit. Ketika engkau mengucapkan doa yang kedua, aku mendengar suara bising pada penduduk langit. Lalu engkau mengucapkan doa yang ketiga, hingga dikatakan kepadaku" 'Ini adalah doa orang yang ditimpa bencana'. Selanjutnya, aku meminta kepada Allah supaya menyerahkan urusan pembunuhan perampok tadi kepadaku".

Al-Hasan berkata, "Barang siapa yang berwudhu lalu mengerjakan shalat empat rakaat dan berdoa dengan doa tadi maka doanya akan dikabulkan, baik dia sedang ditimpa bencana atau tidak".

Sa`d Bin Muadz Radhiyallahu Anhu. Mulia Sebelum Dan Sesudah Masuk Islam

SA’D BIN MUADZ RADHIYALLAHU ANHU, MULIA SEBELUM DAN SESUDAH MASUK ISLAM Namanya adalah Sa`d bin Muadz bin an-Nu`man bin Imri` al-Qais al-Asyhali al-Anshâri Radhiyallahu anhu, seorang Sahabat memiliki kedudukan yang agung. Dia masuk Islam sebelum Hijrah melalui Ibnu Umair Radhiyallahu anhu. Ia pernah berkata kepada Kaumnya. “Ucapan laki-laki dan perempuan kalian haram bagiku hingga kalian masuk Islam. Masuk, Islamlah kalian! Sa`d bin Muadz Radhiyallahu anhu adalah orang yang paling agung berkahnya bagi agama Islam. Sa`d bin Muadz Radhiyallahu anhu ikut andil dalam perang Badar. Beliau terkena lemparan anak panah pada perang Khandaq dan ia hidup sebulan kemudian, setelah memberikan keputusan hukum bagi bani Quraidzah. Lukanya semakin membengkak dan wafat pada tahun kelima Hijrah. Keberadaannya di sisi Rasulullah juga memberikan kekuatan bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dalam sebuah syair disebutkan: فَإِنْ يَسْلَمِ السَّعْدَانِ يُصْبِحْ مُحَمَّدٌ بِمَكَّةَ لاَ يَخْشَى خِلاَفَ الْمُخَالِفِ Jika dua Sa`d Radhiyallahu anhu masuk Islam, maka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah tidak takut terhadap perbuatan orang yang menyelisihi. (maksudnya adalah Sa`d bin Ubâdah, pembesar suku Khazraj dan Sa`d bin Muadz pembesar suku Aus). PERAN SA`D DALAM MEMBERIKAN KEPUTUSAN TERHADAP BANI QURAIZAH Dalam kitab Fathul Bâri, Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan hadits : “Sa`d bin Muâdz Radhiyallahu anhu terkena lemparan anak panah pada urat nadi tangannya oleh seorang Quraisy yang bernama Hibbân bin al-Ariqah/Hibbân bin Qais dari bani Maîsh bin Amir bin Luay. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membangun tenda untuk Sa`d Radhiyallahu anhu di masjid, agar beliau bisa menjenguknya dari dekat.” Selanjutnya Aisyah Radhiyallahu anhuma mengatakan : “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari Khandaq, beliau meletakkan senjatanya lalu mandi. Kemudian datanglah seseorang (Jibril)”.(Menurut riwayat lain : Jibril memberikan salam kepada kami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkejut lalu berdiri. Setelah itu aku juga berdiri. Tiba-tiba datang seorang Sahabat yaitu Bidihyatul Kalbi Radhiyallahu anhu dan ia berkata: “Ini adalah Jibril. Ia datang kepadaku agar aku pergi kepada bani Quraidzah.”) Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membersihkan debu-debu yang ada di muka Jibril. Jibril berkata, “Engkau telah meletakkan senjatamu. Demi Allah Azza wa Jalla , aku belum meletakkan senjataku. Keluarlah kepada mereka!” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kemana?”” Kemudian Jibril mengisyaratkan kepada bani Quraizhah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengepung mereka selama 15 atau 25 malam. Pengepungan tersebut membuat mereka merasa berat dan Allah Azza wa Jalla juga menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Dalam kondisi demikian, yaitu mereka merasa yakin bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya tidak akan pergi meninggalkan mereka ; Pemimpin mereka Ka`b bin Asad berkata kepada mereka. “Wahai kaum Yahudi! Sesungguhnya keadaan kalian adalah seperti yang kalian lihat sekarang. Aku tawarkan kepada kalian tiga hal, pilihlah mana yang kalian suka!” Mereka bertanya: “Apa saja itu”? Ka`b menjawab: “Pertama : Kita mengikuti lelaki ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), dan beriman kepadanya. Telah pasti bagi kalian bahwa dia adalah seorang nabi yang diutus bagi kalian. Dia pula lelaki yang telah disebutkan dalam kitab kalian. Jika kalian bersedia, maka darah, harta benda, anak-anak dan istri-isri kalian akan aman.” Mereka menjawab: “Kita tidak akan meninggalkan hukum Taurat selamanya dan kita tidak akan mengambil hukum selainnya.” Lalu Ka`b berkata: “Jika kalian tidak setuju dengan usulan ini, maka usulan Baca Juga  Julaibib Radhiyallahu Anhu (Ia Memilih Berjihad Dan Merindukan Syahid) Kedua : Mari kita bunuh anak-anak dan istri kita. Kemudian kita keluar mengangkat pedang melawan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya. Kita tidak akan meninggalkan beban di belakang kita, hingga Allah memberi keputusan antara kita dan mereka. Jika kita binasa, maka selesailah urusannya ! Kita tidak meninggalkan keturunan yang kita khawatirkan. Dan jika kita menang, maka, maka demi Allah, kalian pasti akan mendapatkan wanita dan anak-anak lagi.” Mereka bertanya: “Jika kita bunuh mereka, maka kesenangan hidup apalagi bagi kita setelah kehilangan mereka?” Ka`b menjawab: “Jika kalian enggan dengan ini, maka usulan Ketiga : Pada sabtu malam, mungkin Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya akan memberi keamanan kepada kita. Maka, menyerahlah ! mudah-mudahan kita bisa mengintai Muhammad dan pasukannya. Mereka mengatakan: “(jika demikian), berarti kita mengotori hari sabtu kita yang tidak pernah dilakukan oleh para pendahulu kita, kecuali kamu.” Kemudian Ka`b berkata dengan nada tinggi karena marah: “Apa yang membuat salah seorang dari kalian menjadi keras kepala setelah dilahirkan ibunya semalam suntuk?” Akhirnya, kemudian mereka mengirimkan utusan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pesan: “Utuslah Abu Lubâbah bin Abdul Mundzir, saudara bani Auf agar menemui kami. Kami akan meminta pendapatnya.” Dulu mereka adalah sekutu suku Aus. Sementara harta dan anak-anak Lubâbah juga ada di wilayah orang-orang yahudi. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya. Saat melihat kedatangan kedatangan Abu Lubâbah, semua orang yahudi mengelu-elukannya. Yang laki-laki bangkit dan mengerumuninya sedangkan para wanita dan anak-anak menangis dihadapannya. Abu lubâbah sangat iba melihat keadaan mereka. Mereka berkata: “wahai Abu Lubâbah, apakah kami harus tunduk kepada keputusan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Dia menjawab: “Begitulah” sambil memberi isyarat dengan tangannya yang diletakkan di leher yang maksudnya adalah mereka akan dijatuhi hukuman mati. Setelah itu Abu Lubâbah sadar bahwa dia telah mengkhianati Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Seketika itu dia berbalik dan menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia mengikat tubuhnya di salah satu tiang masjid. Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkan tempatku hingga Allah Azza wa Jalla memberi taubat kepadaku terhadap semua yang telah aku lakukan.” [Lihat as-Siratun Nabawiyah, ibnu Hisyam hal.793-794] Ibnu Ishâk rahimahullah menyebutkan : “Tatkala pengepungan sudah sangat ketat, mereka pun tunduk kepada hukum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Apakah kalian ridha dengan siapa pun orang yang memberikan hukum di antara kalian?” Mereka menjawab: “Ya” . Maka beliau berkata : “Serahkanlah kepada Sa`d.” Baca Juga  Imam Ibnu Mandah Rahimahullah, Sang Petualang Dalam Thalabil Ilmi Dalam banyak kitab sirah disebutkan bahwa mereka tunduk kepada hukum Sa`d Radhiyallahu anhu ; dan telah disepakati bahwa mereka telah tunduk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tunduk kepada hukum Sa`d Radhiyallahu anhu. Alqamah bin Waqash Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa tatkala kondisi dan situasi terasa berat bagi mereka, seseorang memerintahkan : “Tunduklah kalian kepada keputusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam !” Tatkala mereka meminta petunjuk kepada Abu Lubâbah, ia menjawab: “Kita tunduk kepada hukum Sa`d bin Muâdz Radhiyallahu anhu ”. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan hukum kepada Sa`d bin Muâdz Radhiyallahu anhu . Kemudian Sa`d Radhiyallahu anhu berkata, “Dalam hal ini aku memutuskan agar para tawanan dibunuh; para wanita dan anak-anak disekap dan harta bendanya dibagi-bagikan.” Ibnu Ishâk rahimahullah menyebutkan bahwa mereka disekap di rumah bintu Harits, dan menurut riwayat Abul Aswad mereka disekap di rumah Usâmah bin Zaid. Dalam hadits Jâbir disebutkan bahwa mereka disekap di dua rumah. Ibnu Ishâk menambah: “Kaum Muslimin membuat parit, kemudian leher mereka dipenggal dan darah mereka pun mengalir di parit-parit tersebut. Kemudian harta benda, para wanita dan anak-anak mereka dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin. Hisyam (seorang perawi) mengatakan : “Ayahku menceritakan kepadaku dari Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa S`ad Radhiyallahu anhu pernah berdoa kepada Allah Azza wa Jalla , “Ya Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa tidak ada suatu kaum pun yang paling suka aku perangi, melainkan mereka yang telah mendustakan dan mengusir Rasul-Mu. Ya Allah Azza wa Jalla , aku mengira Engkau telah menghentikan peperangan antara kami dan mereka. Jika masih ada lagi peperangan dengan mereka, maka panjangkan usiaku hingga aku bisa berperang karena-Mu. Dan jika Engkau telah menghentikan peperangan, maka parahkan lah lukaku dan takdirkan lah kematianku saat itu.” Kemudian lukanya pun bertambah parah. Tidak ada sesuatu yang mengejutkan kemah bani Ghifar (penghuni masjid) tatkala itu, melainkan darah yang terus mengalir menuju mereka. Mereka bertanya: “Wahai penghuni tenda, apa ini yang mengalir menuju kami dari arah kalian?” Tiba-tiba darah itu mengalir semakin cepat dan Sa`d Radhiyallahu anhupun meninggal dunia. Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika jenazahnya berada di hadapan manusia, orang-orang munafikin mengatakan : “Sungguh ringan sekali jenazahnya.” Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : “Sesungguhnya para malaikat membawa jenazahnya, dan arsy Allah Azza wa Jalla bergoncang karenanya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: اهْتَزَّ الْعَرْشُ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ Singgasana Allah Azza wa Jalla bergoncang karena kematian Sa`d bin Muâdz [HR al-Bukhâri] Marâji`: 1. Kitab Fadhâilul Sahâbah Lil Imâm Ahmad hlm: 1029 2. Kitab Shahîhul Musnad min Fadhâilil Sahâbah hlm 267 3. Kitab sirah nabawiyah libni hisyam hlm 793-794 [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi: https://almanhaj.or.id/3799-sad-bin-muadz-radhiyallahu-anhu-mulia-sebelum-dan-sesudah-masuk-islam.html 

DOA YANG MENGGETARKAN ARSY ALLAH SWT

 DOA YANG MENGGETARKAN ARSY ALLAH SWT

يَا وَدُوْدَ يَا وَدُوْدَ . يَاذَا اْلعَـرْشِ اْلـمَجِـيْدِ. يَا مُبْدِأَ يَا مُـعِـيْدَ. يَا فَعَّالاً لِمَا يُرِيْدُ. أَسْأَلُكَ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِيْ مَلَـأَ أَرْكَانَ عَرْشِكَ. وَأَسْأَلُكَ بِقُدْرَتِكَ الَّتِي قَـدَّرْتَ بِهَا عَلَى جَمِيْعِ خَـلْقِكَ. وَأَسْـأَلُكَ بِرَحْمَـتِكَ الَّتِي وَسِعْتَ كُلَّ شَيْئٍ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. يَامُغِيْثَ أَغِــثْـنِي.
Ya waduud, ya waduud, ya dzal arsyil majiid. Ya mubdia ya muiid. Ya fa’aalal lima yuriid. As aluka binuuri wajhikal ladzii mala-a arkaana arsyika. Wa as aluka biqudrotikal latii qoddarta bihaa ‘alaa jamii’i kholqika. Wa as aluka birohmatikal latii wasi’ta kulla syaein. Laa ilaaha illaa anta, ya mughiits aghitsnii.
Artinya :
Ya Dzat Yang Maha Kasih, Ya Dzat Yang Maha Kasih. Ya Dzat Yang Mempunyai Arsy yang agung. Ya Dzat Yang Memulai dan Mengembalikan. Ya Dzat Yang Selalu sukses apa yang dikehendakiNya. Aku mohon padaMu dengan cahaya keagunganMu yang telah memenuhi sendi-sendi ArsyMu. Dan Aku mohon kepadaMu dengan ketentuanMu yang telah Engkau tentukan semua ciptaanMu. Dan aku mohon dengan kasih sayangMu yang telah Engkau luaskan segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Ya Dzat Yang Maha Penolong, tolonglah aku.
(Dibaca 3 kali)
SEJARAH DOA
Dalam hadits riwayat Anas RA, beliau berkata :
Ada seseorang di zaman Nabi, berdagang dari Syam menuju Madinah tidak disertai rombongan karena tawakkal kepada Allah SWT. ketika dia kembali ke Syam, ia dihadang oleh perampok berkuda.
Perampok berteriak : Berhenti !
Berhentilah pedagang : Kamu mau harta ?
Perampok : Harta ini milikku, aku mau nyawamu.
Pedagang : Tunggulah aku sampai selesai shalat !
Perampok : Lakukan apa yang kau mau !
Kemudian pedagang shalat 4 rokaat dan menengadahkan kepalanya ke langit seraya berdoa :
يا ودود يا ودود . يا ذا العـــرش المجيد . يا مبدأ يا معيد. يا فعالا لما يريد. أسألك بنور وجهك الذي ملأ أركان عــرشك. وأسألك بقدرتك التي قـــدرت بها على جميع خــلقــك. وأسألـك بـرحـمتك التي وسعـــت كل شـــيء. لا أله ألا أنت. يامغيث أغثني. (x3)
Tiba-tiba datang (Malaikat) penunggang kuda dengan membawa senjata perang, ketika perampok melihatnya, maka ditinggalkanlah pedagang dan . Ketika (Malaikat Penunggang Kuda) mendekat, maka ia menusuk perampok hingga mati jatuh dari kudanya.
Penunggang kuda berkata kepada pedagang : Ketahuilah bahwa saya Malaikat dari langit ketiga. Ketika kamu berdoa pertama kali, kami mendengar bunyi pintu-pintu langit. Kami berkata : suatu peristiwa telah terjadi. Ketika kamu berdoa yang kedua, terbukalah pintu-pintu langit, ketika kamu berdoa yang ketiga, turunlah Malaikat Jibril seraya berseru: Siapa yang sedang dilanda kesusahan ini?, maka kamu mohon kepada Allah SWT agar aku diperintahkan membunuhnya (perampok). Ketahuilah wahai hamba Allah bahwa barang siapa yang berdoa dengan doamu ini saat mendapat kesulitan, maka Allah SWT akan menolongnya dan memberi solusi. Kemudian Pedagang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan mengabari Beliau (tentang peristiwa tadi). Rasulullah SAW bersabda : “ Sungguh Allah SWT telah membimbingmu Asmaul Husna, apabila didoakan bersamanya, akan dikabulkan. Dan apabila diminta bersamanya, akan diberi.”

Ulama Su', Petaka Dan Fitnah

 

Ulama Su', Petaka Dan Fitnah

 

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir." (QS. Al-Baqarah : 44)

 

Rasulullah SAW bersabda :

"Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah SWT berfirman : 'Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi diriku, Aku bersumpah, Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya." (HR. Tirmidzi).

 

Namanya saja ulama su' (buruk), tentu pekerjaannya merusak, mangacau, dan menyesatkan. Disebut ulama karena baju dan lisannya seperti ulama, disebut su' karena perbuatan, ajakan, dan hatinya jahat. Karena itu, ulama su' termasuk jenis manusia yang berbulu domba namun berhati serigala.

 

Ulama su' sekarang ini adalah generasi penerus dari ulama su' zaman dahulu. Ulama su' mengajarkan tipu daya untuk mencari celah-celah hukum Allah, sehingga mereka bisa memakan harta secara batil seperti kisah orang-orang Bani Israil yang diharamkan mencari ikan pada hari Sabtu, namun mereka halalkan dengan tipu darya yang culup terkenal itu, atau menghalalkan bangkai dengan cara menccirkannya menjadi minyak lalu dijual dan dimakan harganya.

 

Ulama su' adalah peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Ia adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkannya kepada manusia. Di samping itu, ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan. Ia menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran. Ada katlanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, pernghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Atau ada juga ang melakukan itu karena sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di muka buni ini. Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para wakil Dajjal.

 

Diantara ulama su' ada juga kelompok yang mengajak kepada kebaikan, namun tidak pernah memberikan keteladanan. Karena itu, ibnul Qayyim berkata : "Ulama su' duduk di depan pintu surga dan mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan dan seruan-seruan mereka. Dan mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan dan tindakannya. Ucapan mereka berkata kepada manusia : 'Kemarilah! Kemarilah!' Sedangkan perbuatan mereka berkata : Janganlah engkau dengarkan seruan mereka. Seandainya seruan mereka itu benar, tentu mereka adalah orang yang pertama kali memenuhi seruan itu." (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 61).

 

Diriwayatkan bahwa Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Dawud AS : "Wahai Dawud jangan engkau jadikan antara Aku dan antara dirimu seorang alim yang sudah tergoda oleh dunia, sehingga ia bisa menghalangimu dari jalan mahabbahku. Karena sesungguhnya mereka adalah para begal yang membegal jalannya hamba-hambaKu. Sesungguhnya hukuman terkecil yang Aku kenakan untuk mereka adalah Aku cabut kelezatan bermunajat dari hati mereka." (Jami' Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Bar, I/193).

 

Asy-Sya'bi berkata : "Akan ada sekelompok penduduk surga yang melongok, melihat sekelompok penduduk neraka. Lalu penduduk surga menyapa mereka dengan penuh keheranan, 'Apa yang membuat kalian masuk neraka, padahal kami masuk surga karena jasa didikan dan ajaranmu?' Mereka menjawab : Sesungguhnya kami memerintahkan kalian melakukan kebaikan namun kami sendiri melakukannya."

 

Allah SWT telah mencela orang-orang semacam ini sejak zaman Nabi Musa AS dan mengabadikan hinaan itu di dalam kitab suci sepanjang masa, seperti dalam QS. Al-Baqarah : 44, yang artinya :"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?" (Mukhtashar jami' Bayanul Ilmi, Ahmad bin Umar Al-Bairuti, hal. 163).

 

Contoh Nyata

Contohnya banyak sekali, seperti ulama yang dalam muktamar telah memutuskan keharaman musik, lalu setelah pulang ke pesantrennya ternyata di rumahnya terang-terangan memutas kaset-kaset nyanyian atau bahkan santrinya direstui membentuk group musik atau qasidah. Ada lagi ulama yang dengan manisnya mengatakan bahwa tugasnya adalah berdakwah demi kesejahteraan Islam, namun di waktu lain ia malah membolehkan bahkan mengajak untuk memilih orang-orang kafir sebagai pemimpin, dan lain sebagainya.

 

Satu lagi termasuk kelompok ulama su' yaitu ulama yang mengajak kepada kebaikan, tetapi dengan cara-cara kefasikan, seperti berdakwah dengan musik dan gendingan. Mulutnya mengajak ke surga sementara tangan dan kakinya mengajak orang lain untuk bergoyang mengikuti syetan. Atau berdakwah dengan menggunakan metode lawak, sehingga ungkapan yang kotor dan contoh-contoh yang seronok menjadi bumbu wajib dalam setiap ceramahnya karena target keberhasilannya adalah puasnya hadirin, pemirsa dan pendengar, dengan gelak tawa dan senyuman lebar sebanyak mungkin. Tema dan isi dakwah pun dipilih dan dikemas sesuai dengan selera para panitia dan pengunjung. Mulutnya mengajak kepada iman, namun lawakan dan kebanyolannya melupakan akhirat. Intinya adalah ia mencari "ridah manusia." Jenis ulama penghibur (pelawak dan pemusik) ini tidak mengikuti aturan dakwah dalam syariat Islam, tetapi mengikuti nafsu syetan demi mengejar ridha manusia. Mereka lupa akan ancaman Rasulullah SAW : "Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (resiko mendapat) murka manusia, maka Allah mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan (menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkan dirinya kepada manusia." (HR. Tirmidzi, no. 2419).

 

Alhasil ulama su' adalah perusak agama, pemadam sunnah, pelindung bid'ah, pelopor maksiat. Sesungguhnya tepat ungkapan ibnul Mubarak : "Tidaklah merusak agama ini melainkan para raja, ulama su', dan para rahibnya."

 

Hal ini karena manusia ini bergantung kepada ulama (ahli ilmu dan amal), ubbad (ahli ibadah) dan muluk (umara, aghniya'). Jika mereka baik, manusia akan baik dan juka mereka rusak, pasti dunia menjadi rusak. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/462).

 

Umar berkata kepada Ziyad bin Hudair : "Apakah kamu mengerti apa yang merusak Islam?" Ziyad berkata : "Tidak." Umar berkata : "Tergelincirnya seorang alim, debatnya orang munafik -dengan ayat Al-Qur'an- dan (penetapan) hukumnya para imam yang menyesatkan." (Riwayat Ad-Darimi).

 

Ulama su' sejatinya adalah da'i-da'i neraka. Dalam hadits Hudzaifah ra, ketika dia bertanya kepada Rasulullah SAW : "Sesungguhnya kita dulu ada dalam kejahiliyahan lalu Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?" Beliau menjawab dalam ucapannya yang panjang sampai berkata : "ya, para da'i di ambang pintu Jahannam. Siapa yang mendatangi ajakannya pasti akan mereka lemparkan ke dalamnya." (HR. Al-Bukhari, 7084, dan lain-lain).

 

Ulama su' menjadi musuh Allah, mereka sebegitu buruknya karena memutar balikkan urusan, maka benar-benar terbalik. Mestinya salah seorang mereka bisa menjadi pengajak dan penyeru kepada jalan Allah, ternyata mereka sesat dan menyesatkan, mengajak kepada jalan syetan. (Dari ucapan Ali ra, Ad-Dakwatul Tammah, Abdullah Al-Hadrami. hal. 42).

 

Ulama su' adalah ulama fasik yang akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka sebelum para penyembah berhala, karena salahnya orang yang mengerti tidak sama dengan orang yang tidak mengerti. (Mukhtashar Jami' Bayanil Ilmi, 164).

 

Ya Allah, jadikanlah manfaat untuk kami apa yang telah engkau ajarkan kepada kami dan ajarkanlah terus kepada kami apa yang bermanfaat untuk kami. (Abu Hamzah As-Sanuwi).

 

Oleh :

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sigap Memenuhi Panggilan Dakwah Dan Jihad

 

Sigap Memenuhi Panggilan Dakwah Dan Jihad

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfaal: 24).

Dakwah dan jihad adalah dua kata yang selamanya harus ada dan terpatri dalam diri seorang Muslim yang menghendaki al-manzilah al-‘ulya (kedudukan tinggi) di sisi Allah SWT. Setiap mukmin yang memahami dan menghayati hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT. Ia akan mendekat, berlari, dan terbang menuju keridhaan-Nya “fafirruu ilallaah” (Q.S. Adz-Dzaariyaat/51/50). Dan setiap al-akh yang di dalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah. baca

Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad-Majmu’ah Rasail Al-Banna).

Akhil kariim, adakah jalan yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak kebahagiaan selain jalan dakwah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau nyatakan menjadi jalan pengikutnya? Allahumma laa. Dan adakah kematian yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii sabiililllah? Allahumma laa.

Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S. Yusuf: 108)

Apakah (orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah: 19-20)

Ikhwati, tidak ada yang telah membuat usia para sahabat dan para ulama sekaliber Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad r.a. seolah terus memanjang hingga akhir zaman, kecuali dakwah yang mereka lakukan. Tidak ada sesuatu yang telah membuat lisan orang-orang mukmin menyebut dan mendoakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Khalid bin Walid r.a. atau tokoh-tokoh seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, dan Al-Muzhaffar Quthuz selain jihad fii sabilillah. Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Namun akhil kariim, kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini berkat taufiq dan ri’ayah rabbaniyah. Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman: “…dan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (di mahsyar)."

Maka kita patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi di akhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan ri’ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi karakter dalam diri kita? Seberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah (QS 2:138) diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita?

Kekuatan inilah yang menyebabkan Anas bin An-Nadhr r.a. (paman Anas bin Malik r.a.) memberikan respon spontan kepada Saad bin Muadz r.a. tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di perang Uhud dengan ucapannya: “Ya Saad! Surga…surga… aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.” Kemudian beliau maju menjemput syahid hingga jenazahnya tidak dapat dikenali, kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya (Muttafaq ‘alaih - Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits No 1317).

Hal itu pula yang menjadikan Hanzhalah Sang ‘Ghasiil Al-malaikat’ segera merespon panggilan jihad, meski ia baru menikmati malam pengantin dan belum sempat mandi hadats besar. Perhatikan pula respon ‘Umair Ibn Al-Humam r.a. tatkala beliau mendengar sabda Rasulullah SAW, “Quumuu ilaa jannatin ‘ardhuhas-samaawaatu wal-ardh” (Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi). Beliau mengucapkan kata “bakh-bakh” (ungkapan takjub terhadap kebaikan dan pahala) semata-mata karena ingin menjadi penghuni surga, lalu segera membuang beberapa biji kurma yang sedang dikunyahnya sambil berkata, “La-in ana hayiitu hattaa aakula tamaraatii haadzihii innahaa lahayaatun thawiilah” (Jika saya hidup sampai selesai memakan kurma ini, oh betapa lamanya (menanti surga)). Lalu beliau maju hingga gugur di perang Badar. (H.R. Muslim, dalam Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits No 1314).

Atau seperti Imam Al-Banna yang berangkat menunaikan tugas dakwah meskipun anaknya terbaring sakit. Beliau meyakini bahwa setelah usahanya optimal untuk mengobati putranya, Allah SWT yang diharapkan ridha-Nya dalam menunaikan tugas dakwahnya, tidak pernah akan mengecewakan dirinya.

Akhil ‘aziiz, ruhul istijabah juga muncul karena pemahaman kita tentang qhadhaya ummah (fahmul qhadaya) dan tanggung jawab (ruhul mas’uliyyah) kita untuk mencari solusinya. Orang yang tidak mengetahui bahaya yang mengancam dirinya, sangat sulit kita harapkan responnya untuk menghindari apalagi menghilangkan bahaya tersebut. Imam Syahid Hasan Al-Banna bahkan menghendaki agar setiap al-akh memiliki kepekaan perasaan (daqiiq asy-syu’uur), bukan sekadar pengetahuan teoritis, tetapi harus menjadi kepekaan perasaan yang membuatnya tersentuh bahagia dengan kebaikan, dan terluka karena keburukan dan kebatilan. Bukankah dakwah adalah upaya kita menegakkan al-haq dan menghancurkan kebatilan?

Sifat daqiiq asy-syu’uur dan ruuhul mas’uuliyyah berarti mengharuskan kita untuk selalu berinteraksi dengan qhadhaya ummah dan terus memahaminya tanpa menunggu orang lain memahamkannya untuk kita. Sifat ini juga seharusnya membuat respon kita menjadi spontan dan penuh energi sehingga melahirkan kekuatan dahsyat, betapapun lemahnya kondisi fisik.

Lihatlah, bagaimana Al-Qur’an menceritakan kemampuan Maryam AS, ibunda Isa AS, menggoyang batang pohon kurma sehingga buahnya berjatuhan ketika beliau dalam keadaan lemah tak berdaya, semata-mata karena rasa tanggung jawabnya akan kelahiran dan keselamatan putranya yang akan mengemban risalah dakwah? (periksa Q.S. Maryam: 22-25).

Ikhwah fillah, beban kehidupan dunia yang kita hadapi, apapun bentuknya, jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan dan kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Kita patut meneladani mujahidin Palestina yang tidak pernah mengendor semangat dan aktivitas jihadnya meskipun perjalanan panjang telah melewati dan terus menanti mereka. Juga, meskipun kesulitan hidup, bahkan tekanan bertubi-tubi terus menghantam. Yakinlah bahwa kebersamaan kita dengan Rasulullah SAW, shiddiqin, syuhada, dan shalihin di surga – insya Allah – ditentukan oleh sejauh mana kita meneladani mereka dalam kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad.

Ingatlah selalu kecaman Allah dan Rasul-Nya terhadap orang-orang munafik yang selalu mencari-cari alasan (tafannun fil ‘udzr) untuk menghindar dari kebutuhan berdakwah dan berjihad (lihat Q.S. 9/At-Taubah: 94). Tadabburi pula ayat lainnya di dalam surat At-Taubah, terutama ayat 41-47, yang mengungkapkan kemalasan dan keengganan mereka agar kita senantiasa terhindar dari sifat-sifat mereka.

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. (Q.S. At-Taubah: 24).

Wallahu a’lam

 

Lowongan Kerja Sales Online

Lowongan Kerja Sales Online
Lowongan Kerja Sales Online