IPAR ADALAH KEMATIAN

 IPAR ADALAH KEMATIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إيَّاكُمْ والدخول على النساءِ فقالَ رجلٌ منَ الأنصار يا رسولَ الله أفرأيتَ الْحَمُو قالَ الْحَمُو الموت
“Janganlah kalian memasuki tempat para wanita. Maka berkata seorang lelaki dari kaum Anshar: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan ipar? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: Ipar adalah kematian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu]
MAKNA “IPAR ADALAH KEMATIAN”
Al-Imam Ath-Thobari rahimahullah berkata,
المعنى أن خلوة الرجل بامرأة أخيه أو بن أخيه تنزل منزلة الموت والعرب تصف الشيء المكروه بالموت
“Maknanya adalah seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan istri saudaranya atau istri ponakannya sama seperti kematian (yang tidak disukai karena bahayanya), dan kebiasaan orang Arab mensifatkan sesuatu yang tidak disukai (karena bahayanya) dengan kematian.” [Fathul Baari, 9/332]
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
وإنما المراد أن الخلوة بقريب الزوج أكثر من الخلوة بغيره والشر يتوقع منه أكثر من غيره والفتنة به أمكن لتمكنه من الوصول إلى المرأة والخلوة بها من غير نكير عليه بخلاف الأجنبي
“Maknanya adalah berdua-duaan dengan kerabat suami lebih berbahaya dibanding dengan selainnya, demikian pula kejelekan dan fitnah (godaan yang menjerumuskan kepada zina) dengan ipar lebih besar, karena (umumnya) sangat memungkinkan untuk berhubungan dan berdua-duaan dengannya tanpa mendapat teguran orang, berbeda dengan wanita lain (yang umumnya mendapat teguran orang).” [Fathul Baari, 9/332]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
قيل المراد أن الخلوة بالحمو قد تؤدي إلى هلاك الدين إن وقعت المعصية أو إلى الموت إن وقعت المعصية ووجب الرجم أو إلى هلاك المرأة بفراق زوجها إذا حملته الغيرة على تطليقها أشار إلى ذلك كله القرطبي
“Dikatakan bahwa berdua-duaan bersama ipar (adalah maut) maksudnya dapat mengantarkan kepada kebinasaan agama seseorang apabila terjadi kemaksiatan, atau mengantarkan kepada kematian apabila terjadi kemaksiatan (zina) sehingga wajib untuk dihukum rajam (dilempari batu sampai mati dengan perintah penguasa), atau mengantarkan kepada kehancuran wanita tersebut karena bercerai dengan suaminya tatkala suaminya cemburu sehingga menceraikan istrinya itu, semua makna ini diisyaratkan oleh Al-Qurthubi.” [Fathul Baari, 9/332]
Al-Imam Al-Qusyairi rahimahullah berkata,
كأنه يقال : من قصد ذلك فليكن الموت في دخوله عوضا من دخول الحمو الذي قصد دخوله ، ويجوز أن يكون شبه الحمو بالموت ، باعتبار كراهته لدخوله ، وشبه ذلك بكراهة دخول الموت
“Seakan dikatakan: Barangsiapa yang sengaja melakukan hal itu maka lebih baik mati daripada berdua-duaan dengan ipar. Bisa juga makna diserupakannya ipar dengan kematian, adalah dari sisi tidak disukainya berdua-duaan dengannya (karena bahaya perbuatan itu), maka sebagaimana kematian itu tidak disukai demikian pula berdua-duaan dengan ipar tidak dibolehkan.” [Ihkaamul Ahkaam, hal. 398]
BEBERAPA PERMASALAHAN
1. Al-Hamuw, ‘ipar’ yang dimaksud di sini adalah kerabat suami yang tidak termasuk mahram bagi istri, tidak terbatas saudara (adik atau kakak laki-laki suami) tapi seluruh kerabatnya yang bukan mahram seperti pamannya, sepupunya dan lain-lain. Adapun mahram istri dari kerabat suami adalah seperti bapak mertua dan seterusnya ke atas, anak suami (anak tiri) dan seterusnya ke bawah (lihat Fathul Baari, 9/331).
2. Dalam hadits yang mulia ini terkandung larangan memasuki ruangan atau tempat wanita, dan apabila disertai khalwat (berdua-duaan) tentu lebih terlarang lagi (lihat Fathul Baari, 9/331).
3. Haramnya melakukan hal-hal yang bisa mengantarkan kepada zina maupun maksiat yang lainnya.
4. Larangan tinggal serumah dengan orang-orang yang tidak punya hubungan mahram, sampai Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu melarang bujangan tinggal bersama orang-orang yang sudah menikah. Ini harus diperhatikan terutama para pemilik rumah kontrakan. Dan inilah yang diamalkan kaum Muhajirin ketika datang ke Madinah di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (lihat Taysirul ‘Allam, 2/72).
5. Mahram bagi seorang wanita adalah yang diharamkan untuk dinikahi selama-lamanya, inilah mahram yang boleh menemani dalam safar, baik safar mubah maupun ibadah seperti untuk haji dan umroh, yang boleh berjabat tangan dan melihat perhiasan seorang wanita. Adapun ipar hanyalah diharamkan untuk dinikahi sementara waktu saja, jadi ipar bukan mahram yang dibolehkan menemani safar seorang wanita, tidak boleh pula berjabat tangan dengannya dan melihat perhiasannya.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
═══ ❁✿❁ ═══
Bimbingan dan Servis Umroh Bersama Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullah
Hubungi:
IG @travel.sofyanruray.info
Gabung WA Group KAJIAN ISLAM
Ketik: Daftar
Kirim ke Salah Satu Admin:
#Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim dari Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallaahu’anhu]

0 komentar:

Posting Komentar