Dalam memahami Hadis itu tidak bisa comot satu Hadis untuk menghukumi secara universal yang sipit dimaksud Hadis itu Cina. Perlu jam’ur riwayat
(mengumpulkan beberapa riwayat Hadis yang semakna) dalam memahami
Hadis. Kalau kita mencoba membuka literatur kitab-kitab klasik, Imam
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah sudah melakukan jam’ur riwayat mengenai hadis tanda kiamat terkait mata sipit ini.
Dalam mengumpulkan riwayat-riwayat mata sipit ini, Ibnu Katsir memberikan judul qital al-hidn (perang
melawan India). Namun demikian, terkait perang melawan India ini, Ibnu
Katsir tidak menyebutkan Hadis yang berkaitan dengan mata sipit. Ibnu
Katsir hanya menyebutkan dua Hadis dari Abu Hurairah yang disandarkan
pada Rasulullah Saw.
“Rasulullah menjanjikan kepada
kami bahwa nanti kami (umat Muslim) berperang melawan India. Kalau saya
menemui perang itu dan mati syahid di sana, maka saya termasuk syuhada
terbaik. Tapi kalau saya lebih dulu meninggal (dari kalian), Rasulullah
Saw. pun sudah (menjamin) saya bebas dari api neraka” (HR Ahmad dan An-Nasai).
Hadis-hadis yang diriwayatkan Abu
Hurairah terkait perang melawan India ini tidak ada yang sahih. Namun
demikian, ada Hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Tsauban, pelayan
Rasulullah Saw., yang kualitasnya minimal Hasan. Al-Albani menyebutnya
sahih. Sahabat Nabi yang satu ini orangnya sangat kanaah, menolak
bantuan siapa pun yang ingin membantunya. Setelah Rasulullah wafat,
sahabat Tsauban ini hijrah ke Syam, Ramalah, dan kemudian pindah ke Homs
hingga wafatnya. Kota Homs ini tempat di mana sekarang terjadi
pertempuran besar antara Rezim Suriah Asad serta koalisinya melawan
pihak-pihak yang dianggap musuh olehnya.
Baca Juga : Telaah Hadis Kiamat Terjadi pada Malam Jumat Pertengahan Ramadan
“Dua
kelompok dari umatku yang diselamatkan dari api neraka oleh Allah itu
mereka yang berperang melawan India dan yang nanti masih hidup menemui
Isa bin Maryam As.” (HR an-Nasai dan Ahmad).
Menurut Ibnu Katsir, perang melawan
India ini sudah pernah terjadi pada masa Kerajaan Muawiyah sekitar tahun
44 Hijriah. Setelah menyebutkan ini, Ibnu Katsir menyambungkan dengan
keterangan lain bahwa Bani Umayah juga pernah berperang melawan Atrak (Turk) dengan menyebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengan mata sipit. Pertanyaannya, apakah al-Hind (India) dan Turk itu
satu bangsa yang sama pada saat itu? Selain itu, riwayat Imam Ahmad
yang berkaitan dengan mata sipit ini menyebutkan juga bangsa Khuz Kirman. Sebelum
menjawab pertanyaan ini, mari kita simak hadis sahih di bawah ini yang
dikutip Ibnu Katsir dari Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
“Kiamat tidak akan terjadi
sampai kalian memerangi sekolompok orang yang sendalnya terbuat dari
rambut, dan memerangi bangsa Turk, yang mana mereka bermata sipit,
berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, wajah mereka berbentuk
perisai yang bundar (HR Bukhari dan Muslim).
Ada yang perlu ditegaskan terkait hadis-hadis di atas. Pertama, umat
Muslim yang beriman dan bertakwa tentunya pasti percaya dengan hal yang
gaib. Dalam surah al-Baqarah ayat ke-3 disebutkan bahwa ciri-ciri orang
beriman itu alladzina yu’minuna bil ghaib. Hari kiamat termasuk hal gaib yang harus dipercayai umat Muslim.
Kedua, kita percaya bahwa
Nabi Muhammad Saw. diberikan mukjizat oleh Allah untuk mengetahui
tanda-tanda kiamat, namun Nabi tidak pernah memastikan kapan kiamat akan
terjadi. Kalau kiamat diketahui kapan akan terjadi, mungkin tidak ada
orang jahat di akhir zaman nanti, karena semuanya takut menghadapi hari
akhir. Mereka semua pasti buru-buru bertobat. Namun kenyataannya tidak
demikian. Kalau hari kiamat diberitahu oleh Allah kapan terjadinya, maka
permainan hidup di dunia ini tidak lagi seru, tidak ada tantangannya,
karena semua sudah tahu kapan akan game over. Ibarat main game, kalau musuh sudah diketahui tidak sebanding dengan kita, buat apa melawannya?
Baca Juga : Bolehkah Memegang Alquran Android Tanpa Wudhu?
Ketiga, Imam an-Nawawi dalam syarah Sahih Muslim menyebutkan bahwa perang melawan Turk itu
sudah pernah terjadi di zaman Imam an-Nawawi hidup, sekitar 8 abad yang
lalu. Nah, 8 abad lalu sampai sekarang belum juga terjadi kiamat. Itu
bukan waktu yang sebentar. Namun demikian, Imam an-Nawawi tidak
menyebutkan spesifik siapa yang dimaksud bangsa Turk dalam Hadis di atas. Apakah kejadian ini akan terulang kembali, sementara khitab Nabi tekait hadis ini ditujukan kepada sahabat? Apakah masih berlaku pada konteks saat ini?
Keempat, hadis terkait perang melawan al-Hind (India) yang dikaitkan dengan Ibnu Katsir dengan at-Turk, dalam pengamatan saya, itu tidak tepat. Hadis perang melawan al-Hind tidak
menyebutkan orang-orang yang dimaksud dengan ciri-ciri mata sipit,
hidung pesek, dan seterusnya. Sementara itu, menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, perang melawan at-Turk dan Khuz Kirman merupakan perang yang berbeda. Artinya, perang melaan Khuz Kirman sendiri, perang melawan at-Turk juga sendiri.
Kelima, Doktor Ali Muhammad al-Shalabi dalam bukunya al-Daulatul Utsmaniyah: ‘Awamilun Nuhudh wa Asbabus Suquth, menjelaskan bahwa Umat Islam di tangan khalifah Umar bin Khatab berhasil melakukan futuhat ke beberapa wilayah Asia Tengah sejak tahun 22 Hijriah. Waktu itu, umat Islam mampu mengalahkan Kekaisaran Sasania (al-Daulatus Sasaniyyah). Mereka yang hidup di masa kekaisaran tersebut dijuluki dengan Bangsa at-Turk (dalam bentuk plural disebut Atrak), belakang disebut dengan Turkistan. Bangsa Muslim Arab waktu itu menyebut wilayah tersebut dengan manthiqah ma wara an-nahar, dan bangsa Persia menyebutnya Fararud. Silakan lihat petanya di bawah ini:
Inilah pentingnya memahami Geografi
Hadis sebagaimana disampaikan guru kami tercinta di Darus Sunnah, Prof.
Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, allahu yarhamuh. At-Turk yang dimaksud lebih luas hanya untum sekedear mengkhususkan Cina saja. Negara-negara yang ada dalam peta di atas semuanya termasuk at-Turk pada masanya.
Baca Juga : Hukum Menyandarkan Kata Abdun (Hamba) Kepada Selain Allah
Keenam, Nabi juga pernah mewasiatkan dalam hadisnya yang lain mengenai bangsa at-Turk. Nabi bersabda, “Jangan perangi Bangsa Habasyah dan Turk selagi mereka tidak memerangi kalian” (HR
Abu Daud). Menurut al-Albani, kualitas hadis ini hasan. Hadis ini
memberi pesan bahwa perang itu dilakukan ketika bangsa lain lebih dulu
memerangi kita. Wallahu a’lam.
0 komentar:
Posting Komentar